Sama sekali bukan hal yang mudah untuk akhirnya menuliskannya disini.
Lagi-lagi tentang trigger dari salah satu aplikasi sosial media tentang sosok yang sudah lama tidak ada di dunia.
Dan...
Sekarang semuanya menjadi runtut.
Tentang semua luka yang sebetulnya adalah trauma yang sebelumnya hanya kuceritakan pada pihak ke-3, karena aku sudah lelah menahannya sendiri.
Puncaknya di 2023 lalu, ketika aku memberanikan diri untuk menemui psikolog. Sesuatu itu tidak bisa kuceritakan pada siapapun, harus kuceritakan pada orang ke-3 yang kuharap tak pernah memberikan penghakiman kepada ku. Kini ketika aku juga ingin menjadi sembuh, tujuannya adalah supaya aku tidak lagi menanggung beban. Semua ku lakukan untuk diri ku sendiri, untuk orang-orang disekitarku saat ini, dan juga untuk aku di masa depan, atau orang yang akan membersamaiku di masa depan.
Besar di rumah sebagai anak pertama, cucu perempuan pertama dari anak pertama, yang juga tinggal bersama orang tua dari bapak. Di hidup pertama ini, ternyata aku mulai sadar, semuanya adalah bentuk dari duniaku sendiri.
Kerasnya aku, yang selalu ingin lari dan membantah. Berontak ku adalah cerminan betapa berantakannya aku masa lalu. Yang besar dengan suara yang nyaring dan pintu yang harus ditutup dengan keras. Yang tidak bisa menamai perasaan sendiri, yang terus saja berlari sampai kutemui diriku sendiri di masa lalu.
Ku sapa dia dengan terisak dan dada yang penuh sesak. Ternyata berat beban yang dia bawa ke masa depan adalah akumulasi dari batu-batu yang dia masuk kan ke dalam karungnya sendiri selama ini.
Memori-memori yang sangat jelas dan masih nyata, terkadang masih menjadi pertanyaan: bagaimana aku bisa menghadapinya? Bagaimana aku dulu bisa seperti itu? Kini semua sudah perlahan dilepaskan, dibuang ketika berjalan, ditaruh di sungai, atau di pahatnya menjadi sesuatu. Yang pasti, dia sudah tak bawa lagi beban berat yang selalu membuat langkahnya terseok itu.
Aku tau, perjalanan ini masih panjang.
Aku sudah mulai berbenah, sejauh ini walau pelan tapi aku masih terus maju perlahan.
Untuk membuka kembali luka itu, untuk membasuhnya pelan, dan menjahitnya dengan lembut.
Luka itu dulu menganga lebar, karena tidak pernah disentuh.
Kini mungkin hanya sedikit perih dan terkadang menyesakkan, tidak lagi membuatku menjerit.
Karena aku sadar, aku tidak bisa membawa beban ke masa depan.
Memaafkan diri sendiri bukan proses yang mudah, apalagi kata maaf itu sendiri menjadi kata yang paling jauh untuk diucapkan sebelumnya dan terkesan tak mungkin.
Pengampunan bagiku mungkin terlihat jauh. Tapi aku pun tidak pernah tahu.
Ikhlas pun mungkin hanya doa, tapi sekali lagi ini tentang perjalanan.
Untuk aku, terima kasih karena sudah berani menghadapi diri sendiri.
Untuk aku, terima kasih karena masih berusaha menjadi lembut ketika orang lain selalu melabeli dengan kata keras.
Untuk aku, terima kasih karena masih memeluk diri sendiri, mencoba membersamai walau terkadang kita mundur lagi selangkah, untuk selanjutnya kita maju kembali dengan pasti.
Untuk aku, terima kasih karena masih terus mencoba...
Jakarta,
Selasa, 28 Okt 2025