Thursday, 4 December 2025

a gentle reminder

a reminder to always listen to your gut
no second thoughts at least you've asked the trusted resources (God)

a reminder that never settle for let it flow
and ask for clarity upfront

a reminder that even the one who text consistently is nothing without effort

a reminder that always trust in actions, not words

this is,
a gentle reminder that

be kind to yourself first,
be gentle to your ownself.

you're never wrong to feel deeply,
love fully.

you're never wrong to start anew,
you're just enough to yourself,

and they just aren't ready for the love that you'll bring.
they simply are not for you.

and you're okay.

you are lovely.
you are still beautiful.

this too,
shall pass.


Tuesday, 28 October 2025

Menjahit

Sama sekali bukan hal yang mudah untuk akhirnya menuliskannya disini.
Lagi-lagi tentang trigger dari salah satu aplikasi sosial media tentang sosok yang sudah lama tidak ada di dunia.

Dan...
Sekarang semuanya menjadi runtut.
Tentang semua luka yang sebetulnya adalah trauma yang sebelumnya hanya kuceritakan pada pihak ke-3, karena aku sudah lelah menahannya sendiri.

Puncaknya di 2023 lalu, ketika aku memberanikan diri untuk menemui psikolog. Sesuatu itu tidak bisa kuceritakan pada siapapun, harus kuceritakan pada orang ke-3 yang kuharap tak pernah memberikan penghakiman kepada ku. Kini ketika aku juga ingin menjadi sembuh, tujuannya adalah supaya aku tidak lagi menanggung beban. Semua ku lakukan untuk diri ku sendiri, untuk orang-orang disekitarku saat ini, dan juga untuk aku di masa depan, atau orang yang akan membersamaiku di masa depan.

Besar di rumah sebagai anak pertama, cucu perempuan pertama dari anak pertama, yang juga tinggal bersama orang tua dari bapak. Di hidup pertama ini, ternyata aku mulai sadar, semuanya adalah bentuk dari duniaku sendiri.

Kerasnya aku, yang selalu ingin lari dan membantah. Berontak ku adalah cerminan betapa berantakannya aku masa lalu. Yang besar dengan suara yang nyaring dan pintu yang harus ditutup dengan keras. Yang tidak bisa menamai perasaan sendiri, yang terus saja berlari sampai kutemui diriku sendiri di masa lalu.

Ku sapa dia dengan terisak dan dada yang penuh sesak. Ternyata berat beban yang dia bawa ke masa depan adalah akumulasi dari batu-batu yang dia masuk kan ke dalam karungnya sendiri selama ini.

Memori-memori yang sangat jelas dan masih nyata, terkadang masih menjadi pertanyaan: bagaimana aku bisa menghadapinya? Bagaimana aku dulu bisa seperti itu? Kini semua sudah perlahan dilepaskan, dibuang ketika berjalan, ditaruh di sungai, atau di pahatnya menjadi sesuatu. Yang pasti, dia sudah tak bawa lagi beban berat yang selalu membuat langkahnya terseok itu.

Aku tau, perjalanan ini masih panjang.
Aku sudah mulai berbenah, sejauh ini walau pelan tapi aku masih terus maju perlahan.

Untuk membuka kembali luka itu, untuk membasuhnya pelan, dan menjahitnya dengan lembut.
Luka itu dulu menganga lebar, karena tidak pernah disentuh.
Kini mungkin hanya sedikit perih dan terkadang menyesakkan, tidak lagi membuatku menjerit.
Karena aku sadar, aku tidak bisa membawa beban ke masa depan.
Memaafkan diri sendiri bukan proses yang mudah, apalagi kata maaf itu sendiri menjadi kata yang paling jauh untuk diucapkan sebelumnya dan terkesan tak mungkin.

Pengampunan bagiku mungkin terlihat jauh. Tapi aku pun tidak pernah tahu.
Ikhlas pun mungkin hanya doa, tapi sekali lagi ini tentang perjalanan.

Untuk aku, terima kasih karena sudah berani menghadapi diri sendiri.
Untuk aku, terima kasih karena masih berusaha menjadi lembut ketika orang lain selalu melabeli dengan kata keras.
Untuk aku, terima kasih karena masih memeluk diri sendiri, mencoba membersamai walau terkadang kita mundur lagi selangkah, untuk selanjutnya kita maju kembali dengan pasti.

Untuk aku, terima kasih karena masih terus mencoba...

Jakarta,
Selasa, 28 Okt 2025

Friday, 10 October 2025

Untuk semua hal yang sebetulnya masih cukup menakutkan dipikiran, terkadang aku terlalu melihat sesuatu dari kacamata kegagalan. Bagaimana jika ini berakhir tidak baik? Bagaimana jika aku gagal? Bagaimana jika sebenarnya hasilnya akan sama saja seperti sebelumnya?

Terkadang, pikiran ini bahkan tidak bisa kembali berpikir jernih bahwa semua bisa diusahakan. Karena kegagalan-kegagalan yang sebelumnya bahkan belum sembuh dan tidak akan ada sebuah kegagalan yang disengaja ataupun menjadi terbiasa.

Kegagalan masih menjadi sesuatu yang menakutkan. Apakah ini juga trauma yang perlu disembuhkan?
Tapi apakah betul bahwa kegagalan tidak pernah berulang? Aku yakin tidak begitu.
Kegagalan masih akan menjadi sesuatu yang mengikuti kemanapun selama kita hidup. Pilihannya apakah kita berani kembali untuk menyambutnya dengan hati yang lapang, atau menahannya dan sama sekali tidak mencoba melangkah kemanapun.
Pilihan pertama masih akan terpilih secara otomatis.

Bagaimana dengan besok? Kenyataannya, besok itu tidak pernah datang.
Besok hanya akan menjadi besok, yang menjadi kenyataan adalah yang dihadapi sekarang.
Besok ya urusan besok, sekarang tidak apa-apa kan?

Jadi, jalani saja?
Seperti ada pilihan lain saja :)

Monday, 15 September 2025

I want a marriage to be…
A self-actualization.
If my partner is not supportive enough, if my partner only wants control, if my partner doesn’t know how to manage his own anger, if my partner only wants love without giving love, if my partner can’t behave and long list ifs,
I shouldn’t be settling.

I always want my partner to be very supportive. Helping each others when the time isn’t easy. I want him to be a loving husband as I also will love him endlessly and softly. I want him to be as normal as it can be, as we’re both human beings. We’re two growing adults and I want him to always be open to every changes.

Love is so niche, yet love is the utmost important part. Before love, there’s actualization, calculation, and else.

Love is simple, but sometimes things are complicated.

Saturday, 16 August 2025

"Is it obvious that I want a house?"
"What do you mean?", he replied.
"Look at this...", she opened her insta account to show the recent artworks that she made. She also opened her gallery on her iPad adding her point.
"I mean, seems like it has been painted in my subconsciousness that all I can dream of is a house," she added.

He remained silence, surely still listening and has his own words, but he choose to keep it.
She sighted and leaned towards her chair, still swiping her owns creation on the iPad.
"Couldn't you think about something else these days?"
"Yeah, I'm trying to, but sometimes when it comes to artwork, you just can't resist your own imagination right?"
He nodded.

"These days, I think about myself more often. It's not as heavy as it was, 'cause I also realize I can set it loose some parts of the past that adding the burden. But sometimes, all I can think of when I'm alone is only building a house, a home to be exact. I want to have my company, raise a child, a beautiful one. I want to build a nice house, design my own interior."


Jakarta, Sat 16 Aug 8.53

Friday, 12 July 2024

late mid year notes

halfway through 2024,
I honestly pretty amazed on how this rough waves has passed by
It's not easy, at all.

To summarize:
January was ground zero, literally all hell broke loose.
February was grief, Bali was an unforgettable healing place, money return but driving recklessly shouldn't be a choice, but life is just life.
March, was when the decision made. A new journey has started with some kind of optimism.
April, was quite questionable. It's still me against myself, my feeling, my problems. Again, it's just life after all.
May, was rough rough. I didn't know that I'm an explosion.
June, was so so but things isn't quite well in work.
July should be better, but if this was a mistake, I don't know why I fall to the ground for the nth times.

Now that everything was still blur, I just feel that my life has been wasted many times.
Everything wasn't in place, it didn't feel any better.
It still feels like a hell and I don't know how to collect the broken pieces.


In my miserable places,
once again.
Fri 12 Jul 11.59 PM
--

Wednesday, 17 April 2024

Dear my future partner,

Life was never easy back then, right?

You have been through so much in life. You've been bear your burden alone, endure your pain in silence, now that you have me to shares your life with, I want you to believe that it will be okay...

Thank you for opening the door for me to see and welcome you with my open hands.
I'm sorry that you might find me late, but we will finally be tying a knot.

Tomorrow is not the final chapter, tomorrow is the place where we just opening the new door together.
I feel sorry that the road you have been taken was very tough and lonely, but the day we met, I was the one who finally come to your life as your woman, the one who will put you first.

I can't promise that everything will be at ease, but together, I hope that we can face it stronger.
to be each other's strength, to be each other's helping hand, to be each other's peace, and
to be each other's home...

I will be someone to accompany your darkest and lonely night...
I also want you to be there in my silent crying night, and give me the warmest hug.

Live after marriage will not be as easy as it seems, but together I hope that it's not as scary as what you've seen. Marriage is about two souls become one in the name of Allah and build the beautiful way that will lead us two and our family to Jannah. One thing that I’d like to tell you, please always put Allah first in everything you’ll go through. InsyaAllah, it will always be beautiful till the end.

Just promise me you will feel enough, and I'll stand by you.
Forever.

From the one waiting for you to come home, always.
Wed 17 Apr, 2024